Cegah Stunting, BKKBN Riau Perkuat Kolaborasi

oleh -234 Dilihat
oleh

Pekanbaru – Perwakilan BKKBN Provinsi Riau, terus bersinergi dengan berbagai pihak, salah satunya Badan Pusat Statistik, (BPS) Provinsi Riau, membahas dampak demografi.

Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Perwakilan Provinsi Riau Mardalena Wati Yulia mengatakan, daerah ini perlu memperkuat kolaborasi dari semua pihak pemangku kepentingan untuk memanfaatkan bonus demografi pada tahun 2030.

“Pada tahun 2030 itu Riau dan daerah lain sudah memasuki puncak bonus demografi dan setelah itu beban ketergantungan akan naik yang diakibatkan oleh penduduk usia 65 ke atas meningkat,” kata Mardalena dalam keterangannya di Pekanbaru, Senin (24/7). 

Menurut dia, berdasarkan proyeksi penduduk Provinsi Riau dan kabupaten/kota pada tahun 2020-2035 akan terjadi perubahan struktur penduduk di Provinsi Riau.  Pada tahun 2020, Provinsi Riau, katanya, sudah memasuki bonus demografi dan mencapai puncaknya pada tahun 2030 itu.

Mardalena Wati Yulia menyampaikan bahwa berdasarkan proyeksi penduduk Provinsi Riau dan Kabupaten/Kota pada tahun 2020-2035 akan terjadi perubahan struktur penduduk di Provinsi Riau. Pada tahun 2020 Provinsi Riau sudah memasuki bonus demografi dan mencapai puncaknya pada tahun 2030, setelah itu beban ketergantungan akan naik yang diakibatkan oleh meningkatnya penduduk usia 65 keatas.

“Setelah era bonus demografi yang mencapai puncaknya pada tahun 2030 Provinsi Riau dan beberapa kabupaten/Kota di Provinsi Riau akan mengalami ageing populatiaon. Perlu pemikiran dan kebijakan bersama agar hal ini bisa dimanfaatkan menjadi bonus demografi kedua atau memperoleh silver ekonomi,” lanjutnya.

Kemudian, bonus demografi kedua atau silver ekonomi ini bisa dicapai jika para lansia dan penduduk usia 65+ memiliki daya beli yang tinggi, tabungan yang memadai atau masih memperoleh pendapat yang bisa digunakan untuk dibelanjakan dan untuk pengendalian laju pertumbuhan penduduk di Provinsi Riau bisa ditekan atau dikendalikan bahkan mencapai replecemen level pada tahun 2035 berdasarkan proyeksi yang telah dipublikasikan hari ini.

“Hal itu sesuai dengan target SDGs 2030 dengan mengurangi rasio angka kematian ibu, menurunkan angka kematian neonatal dan akses kespro yang universal dengan menghilangkan kelaparan dan menurunkan resiko kekurangan gizi,” rincinya.

Dikatakan, bahwa kependudukan sebagai salah satu modal dasar dalam mencapai visi Indonesia Emas tahun 2045. (Na)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *