Pertumbuhan urbanisasi tinggi picu permasalahan stunting di Riau

oleh -97 Dilihat
oleh

Pekanbaru : Gubernur Riau Syamsuar mengatakan arus urbanisasi atau warga dari desa asal berbagai provinsi yang datang ke Provinsi Riau tinggi sehingga memicu prevalensi atau permasalahan keseluruhan stunting di Kabupaten Indragiri Hilir, Kabupaten Siak dan Kota Pekanbaru yang terus mengalami kenaikan. “Khusus di Kota Pekanbaru sangat diminati oleh pendatang untuk mencari pekerjaan dan ada yang membawa anak mereka berada dalam kondisi stunting. Temuan ini muncul saat Menteri PMK Muhajir Efendi menanyakan keluarga pendatang baru yang beresiko stunting dalam kunjungan kerja baru-baru ini,” kata Gubernur Riau Syamsuar dalam keterangannya di Pekanbaru, Minggu. Menurut Syamsuar, apa yang terjadi di daerah saat ini prevalensi stunting bisa saja berubah karena masyarakat yang dinamis dan data keluarga pendatang itu memang belum terdata tetapi mereka tergolong stunting. Karena itu bisa jadi angka stunting di Kota Pekanbaru munkin akan terus naik lagi sehingga para pemangku kepentingan pemerintah daerah, kabupaten dan kota serta perusahaan dan paguyuban agar bisa mengintervensi melalui bantuan makanan bergizi misalnya telur. “Mari kita gencarkan program kepedulian sosial semua pihak melalui kampanye donasikan “cukup dua telur” tiap anak stunting/enam bulan.

Gerakan sosial semesta mencegah stunting ini sebagai ikhtiar Pemerintah Provinsi Riau dan mitra terkait untuk menurunkan angka stunting di Provinsi Riau,” katanya. Jika bisa kata Gubernur Syamsuar menekankan setelah telur berlanjut satu ons daging ayam dan daging sapi. Kepedulian ini sangat berarti dan apapun bisa kita donasikan untuk bantu warga demi meningkatkan kualitas generasi penerus bangsa. Berdasarkan hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2022, prevalensi stunting di Provinsi Riau 17 persen lebih baik dibanding tahun 2021 sebesar 22,3 persen. Kepala Kantor Perwakilan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Riau Mardalena Wati Yulia mengatakan melalui donasi 2 telur/anak/hari itu diyakini mampu menurunkan prevelensi stengkes di daerah itu.

Akan tetapi terkait ada peningkatan data prevalensi stunting baru di Kota Pekanbaru maka BKKBN akan melakukan pemetaan jumlah KK beresiko stunting dan menjadi sasaran untuk mendapatkan bantuan donasi 2 telur/hari/orang pada setiap KK. “Alhamdulillah sudah ada sejumlah perusahaan yang mendonasikan dua telur/hari/anak stunting itu termasuk dari paguyuban warga Tionghoa. Pendistribusian telur tersebut agar tepat sasaran dilakukan oleh penyuluh KB, dan Tim Pendamping Keluarga agar,” katanya. Pemberian telur bagi anak stunting sekaligus sesuai arahan Presiden Jokowi yang melarang pemberian makanan pabrikan. Telur merupakan sumber protein hewani, selain sebagai sumber vitamin telur juga sebagai sumber mineral. Kandungan mineral telur hampir sama dengan kandungan mineral dalam susu. (Zr)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *