CGP Bergerak, Disiplin Budayanya, Restitusi Solusi Masalahnya

oleh -202 views

Pekanbaru – Alhamdulillah, rasa syukur yang luar biasa saya ucapkan kepada sang pencipta karena pada hari ini dengan berbagai upaya saya dapat menyelesaikan modul 1 dan selanjutnya memasuki post test 1.

Setelah mempelajari materi Pemahaman menurut Ki Hajar Dewantara, Peran dan nilai Guru Penggerak, Visi Guru Penggerak dan yang terakhir Budaya Positif.

Selama proses pemahaman materi saya ditempa untuk literasi, kolaborasi, elaborasi, demonstrasi dan ditutup dengan refleksi saya merasa ini adalah pengalaman spektakuler dan jika saya tidak melakukannya dengan baik sungguh saya orang yang merugi.

Pada minggu ini bahan refleksi saya mengenai “budaya positif” yang mencakup beberapa point diantaranta
1.Disiplin positif
2.Kebutuhan manusia
3.Posisi kontrol guru
4.Keyakinan kelas
5.Segitiga Restitusi

Ini merupakan komponen yang sangat baik, karena kita disuguhi hal yang menurut saya paling rumit dalam hidup, memahami apa yang dibutuhkan oleh orang lain dan memberikan jalan untuk mereka agar mereka menemukan solusi terbaik tanpa ada yang tersakiti. Berbicara soal budaya, Zamroni mengatakan bahwa budaya suatu pandangan hidup yang diakui bersama oleh suatu kelompok masyarakat yang mencakup cara berfikir, perilaku, sikap, nilai yang tercermin baik dalam wujud fisik maupun abstrak (http://pakguruonline.pendidikan.net/pradigma_pdd_ms_depan36.htm l, diakses tanggal 31 Februari 2012).

Pada modul guru penggerak budaya yang dimaksud adalah disiplin, bagaimana seorang guru mampu memberikan efek jera tanpa menyakiti peserta didik dalam upaya menumbuhkan karaker pada peserta didik.

Sebelum sampai pada pembahasan strategi kita pahami dulu apa itu disiplin, perbedaan hukuman dan sanksi, apa saja kebutuhan manusis yang kita perlu pahami, dimana posisi guru yang mampu membuat peserta didik menjadi harapan bangsa,dimana ketika kita membuat suatu aturaan yang bertujuan disiplin, sebagai guru kita wajib mengetahui apakah cara yang kita lakukan melanggan hak peserta didik memperoleh kebutuhan hidupnya.

Sesuai pendapat Pemikiran Ki Hajar ini sejalan dengan pandangan Diane Gossen dalam bukunya Restructuring School Discipline, 2001.

Diane menyatakan bahwa arti dari kata disiplin berasal dari bahasa Latin, ‘disciplina’, yang artinya ‘belajar’. Kata ‘discipline’ juga berasal dari akar kata yang sama dengan ‘disciple’ atau murid/pengikut. Untuk menjadi seorang murid, atau pengikut, seseorang harus paham betul alasan mengapa mereka mengikuti suatu aliran atau ajaran tertentu, sehingga motivasi yang terbangun adalah motivasi intrinsik, bukan ekstrinsik. 

Diane Gossen dalam bukunya Restructuring School Discipline, menyatakan ada 3 alasan motivasi perilaku manusia:

  1. Untuk menghindari ketidaknyamanan atau hukuman
    Ini adalah tingkat terendah dari motivasi perilaku manusia. Biasanya orang yang motivasi perilakunya untuk menghindari hukuman atau ketidaknyamanan, akan bertanya, apa yang akan terjadi apabila saya tidak melakukannya? Sebenarnya mereka sedang menghindari permasalahan yang mungkin muncul dan berpengaruh pada mereka secara fisik, psikologis, maupun tidak terpenuhinya kebutuhan mereka, bila mereka tidak melakukan tindakan tersebut. 
  2. Untuk mendapatkan imbalan atau penghargaan dari orang lain. 
    Satu tingkat di atas motivasi yang pertama, disini orang berperilaku untuk mendapatkan imbalan atau penghargaan dari orang lain. Orang dengan motivasi ini akan bertanya, apa yang akan saya dapatkan apabila saya melakukannya? Mereka melakukan sebuah tindakan untuk mendapatkan pujian dari orang lain yang menurut mereka penting dan mereka letakkan dalam dunia berkualitas mereka. Mereka juga melakukan sesuatu untuk mendapatkan hadiah, pengakuan, atau imbalan. 
  3. Untuk menjadi orang yang mereka inginkan dan menghargai diri sendiri dengan nilai-nilai yang mereka percaya
    Orang dengan motivasi ini akan bertanya, akan menjadi orang yang seperti apa bila saya melakukannya?. Mereka melakukan sesuatu karena nilai-nilai yang mereka yakini dan hargai, dan mereka melakukannya karena mereka ingin menjadi orang yang melakukan nilai-nilai yang mereka yakini tersebut. Ini adalah motivasi yang akan membuat seseorang memiliki disiplin positif karena motivasi berperilakunya bersifat internal, bukan eksternal. 

Diane juga menyatakan bahwa arti asli dari kata disiplin ini juga berkonotasi dengan disiplin diri dari murid-murid Socrates dan Plato. Disiplin diri dapat membuat seseorang menggali potensinya menuju kepada sebuah tujuan, sesuatu yang dihargai dan bermakna.  Dengan kata lain, disiplin diri juga mempelajari bagaimana cara kita mengontrol diri, dan bagaimana menguasai diri untuk memilih tindakan yang mengacu pada nilai-nilai yang kita hargai.  

Setelah kita dapat memahami mengetahui kebutuhan manusia barulah kita mulai mengenalkan apa itu keyakinan kelas sembari menyelami kembali posisi guru manager yang nantinya akan membuahkan hasil perubahan pada peserta didik berlandaskan motivasi instrinsik, tidak terbebani dan senantiasa melekat pada diri peserta didik.

Adapun strategi yang dilakukan seorang guru yang mempedomani posisi kontrol guru manager dikenal Restitusi Segitiga yang artinya disini guru tidak memarahi, memaki dan menjatuhkan mental peserta didik, guru manager akan berusaha memberikan pertanyaan yang memantik peserta didik untuk menyadari kesalahannya kemudian memikirkan solusi sendiri untuk berubah serta munculnya perasaan lega atau senang dari peserta didik .

Agar pemahaman kita semakin lues, mari kita lakukan Studi Kasus “
Kasus :
“Rangga sedang bermain saat istirahat, tiba-tiba Rendi merebut makanan Rangga dan membuangnya ke tong sampah. Diperlakukan seperti itu, Rangga menarik kerah baju Rendi dan memukul Rendi hingga bibir Rendi terluka.”

Restitusi Segitiga :
Langkah awal guru menanyakan permasalahan yang terjadi, kemudian meminta Rangga mengingat kembali keyakinan kelas yang telah disepakati dan menilai sendiri apa yang telah dilakukannya suatu kebenaran atau tidak. Guru juga bertanya apa yang diinginkan Rangga. Guru juga melakukan hal yang sama sama pada Rendi sehingga mereka berdua menyadari kesalahan masing-masing .

Guru mengajak keduanya mencari hal baik yang bisa mereka lakukan namun tetap membuat mereka senang tanpa harus membuat orang lain terluka, merugi atau hal lainnya. Di akhiri dengan guru meyakinkan kepada Rangga dan Rendi mengenai perasaan mereka setelah mereka mengakui kesalahan masing-masing.

Demikianlah Refleksi yang dapat saya jabarkan dan untuk refleksi diri, saya merasa bekum begitu piawai melakukan restitusi ini karena kadang emosional lebih mendahului daripada logika sehingga berefek pada posisi sebagai guru penghukum, namun ini menjadi motivasi saya untuk membaca lebih banyak lagi agar memahami restitusi segitiga dengan baik.

Fasilitator : DR.SRI HANDAYANI, M.Hum
Pengajar Praktik : MEIFITRIADI, S.Sn
Penulis : CGP Angkatan 4 (HARNI DASRIANTI, S.Pd)

No More Posts Available.

No more pages to load.